Salah satu sektor penggerak utama pembangunan ekonomi bangsa adalah sektor industri, karena disamping sebagai pennghasil devisa juga menciptakan nilai tambah produksi masyarakat dan sebagai sektor yang menyediakan lapangan usaha dan lapangan kerja yang potensial bagi sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu industri karet sebagai sarana perindustrian yang merupakan aset bangsa yang tidak saja bernilai ekonomi akan tetapi juga bernilai sosial budaya. Bahkan dari sisi ekonomi ternyata bahwa industri karet memiliki peran yang strategis dan mempunyai daya tahan yang kuat bila berhadapan dengan goncangan ekonomi baik secara lokal maupun global.
Produksi karet di Kabupaten Banjar merupakan komoditas dengan jumlah produksi terbesar nomor 3 di Kalimantan Selatan setelah Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan dan untuk ekspor Kalimantan Selatan komoditas karet merupakan komoditas ekspor nomor 3 terbesar setelah ekspor batu bara dan kelapa sawit. Produk dari karet di Kabupaten Banjar mayoritas adalah produk lump mangkok yang dibuat oleh para petani karet dan dijual ke pabrikan crump rubber yang ada di Banjarmasin dan Kabupaten Tapin serta sebagian ke Kalimantan Tengah untuk dijadikan Standard Indonesian Rubber kualitas 20 (SIR 20), sedangkan sebagian kecil berupa sit asap (Ribbed Smoked Sheet) kualitas asalan (kecuali produk PTP XIII Danau Salak yang berupa RSS kualitas 1, 2 dan 3) yang dijual ke pedagang perantara antar pulau dan pabrikan crump rubber sebagai bahan pencampur lump untuk meningkatkan kualitas SIR 20.
Pada pertengahan tahun 2012 harga lump di tingkat petani anjlok dari sekitar Rp.17.000,-/kg menjadi antara Rp.2.500,-/kh sampai dengan Rp.6.000,-/kg nya. Karena alasan yang tidak jelas dari pihak pabrikan (alasan krisis Eropa dan Amerika) sedangkan harga lump di Provinsi Sumatera Selatan masih di tingkat antara Rp.12.000,-/kg sampai dengan Rp.16.000,-/kg nya. Sedangkan ekspor SIR Indonesia mayoritas adalah ke RRC dan Korea tidak ke Amerika Serikat dan Eropa.
Untuk itu perlu diversifikasi produk dari produk Lump Mangkok ke Creepe Rubber yang harganya lebih tinggi dari lump mangok apalagi lump tanah, lump tahu atau lump babi. Untuk RSS produk ini bisa langsung diekspor terutama RSS 3, RSS 2, RSS 1 dan RSS 1 X dengan harga standar internasional dikurangi FOB 10 %. Namun dari 5 Kecamatan Penghasil Utama Karet di Kabupaten Banjar (Kecamatan Karang Intan, Kecamatan Mataraman, Kecamatan Simpang Empat, Kecamatan Aranio dan Kecamatan Sungai Pinang) RSS hanya memungkinkan untuk dikembangkan di daerah perkebunan karet yang berupa hamparan (Kecamatan Karang Intan dan Kecamatan Mataraman) karena bahan baku yang dipakai adalah lateks segar yang mudah rusak dalam proses pengiriman ke Unit Pengolahan Hasil (UPH) RSS. Sedangkan untuk Kecamatan – kecamatan lainnya perkebunan karetnya tidak berupa hamparan melainkan berupa tofografi bergunung-gunung (Kecamatan Sungai Pinang dan Kecamatan Simpang Empat) bahkan daerrah pegunungan dan perairan waduk Riam Kanan (Kecamatan Aranio) sehingga lebih ekonomis bagi petani untuk memproduksi lump mangkok, lump babi/slab, lump tanah atau lump tahu dari pada menjual lateks segar ke UPH. Namun Lump tidak boleh diekspor karena masih merupakan bahan mentah dan hanya bisa menjual ke pabrikan crump rubber untuk dibuat SIR 20. Namun karena hanya ada beberapa pabrikan crump rubber sehingga price taker ada di tangan mereka serta nilai tambah karet tersebut ada di Kabupaten dan Kota lain karena SIR 20 bisa langsung mereka ekspor.
Untuk membangun pabrik crump rubber di Kabupaten Banjar tidak memungkinkan karena adanya pembatasan penambahan pabrik crump rubber di Kalimantan Selatan oleh Ditjen Perkebunan Kementrian Pertanian RI dengan alasan pabrikan crump rubber yang ada akan kekurangan bahan baku, namun kenyataannya mereka tidak kekurangan bahan baku sehingga mereka bisa mempermainkan harga jika gudang persediaan mereka penuh. Ini terbukti dengan anjloknya harga karet di Kabupaten Banjar ada tendensi mengikuti siklus tahunan produksi mereka. Disamping itu mereka (crump rubber) tidak perduli dengan perbedaan harga lump sesuai kualitas lump yang dijual sehingga produk lump baik kualitas baik maupun kualitas jelek harganya relative sama sehingga kualitas lump Kabupaten Banjar rata-rata buruk.
Untuk meningkatkan nilai tambah industri karet di Kabupaten Banjar dari produk lump maka perlu diadakan pabrik pengolahan Creepe Rubber di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Banjar karena di daerah tersebut (Desa Batu Balian Kecamatan Simpang Empat) mayoritas produk karet adalah lump dan pernah ada pabrik creepe rubber (compo rubber) yang merupakan produk antara dari lump menjadi SIR 20 atau menjadi Compound Rubber.
Untuk tahun anggaran 2013 pabrik crepe rubber di Desa Batu Balian tersebut akan dioperasikan kembali dengan bantuan peralatan creepe rubber dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banjar yang pengadaannya dilakukan pada bulan November 2013 ini, namun produk creepe rubber (compo rubber) masih produk antara namun sudah bisa diekspor atau dijadikan bahan lainnya seperti compound rubber atau bahan jadi karet seperti vulkanisir ban, lem, kerajinan tangan atau mendukung produk industri lainnya seperti industri casting batu permata dan lainnya.
Di Kabupaten Banjar terdapat pasar kerajinan tangan terbesar di Kalimantan Selatan yaitu di Pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura yang menjual produk perhiasan, permata dan kerajinan tangan yang banyak dikunjungi wisatawan baik domestik ataupun manca negara yang berkunjung ke Kalimantan Selatan. Produk Creepe Rubber yang ditingkatkan menjadi Rubber Compound di Kabupaten Banjar dapat mendukung industri hilir berupa industri kerajinan tangan untuk dijual ke pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura. Sehingga nilai tambah untuk produk karet tidak hanya dari bahan mentah menjadi bahan antara namun menjadi barang akhir.
